Please also visit : WWW.KATAKAML.BLOGSPOT.COM and News Portal KATAKAMI.COM (Indonesian Language) Follow KATAKAMI on TWITTER : www.twitter.com/katakamidotcom

The location of the Grad rocket hit on Friday. (Haaretz / Photo by Eliyahu Hershkovitz )

IDF : In Response to Intensive Rocket Fire, IAF Targets Terror-Linked Sites in the Gaza Strip, 19 Nov 2010

 

November 20, 2010 (KATAKAMI / HAARETZ) — Palestinian militant group claims responsibility for mortar fire in retaliation for Israel’s killing of two militants in Gaza on Wednesday.

The Israel Defense Forces Spokesperson confirmed Friday that IDF attacked three targets in the Gaza Strip, following a barrage of mortar bombs and rockets fired at the western Negev.

Palestinian militants in the Gaza Strip fired a long-range Grad rocket and seven mortar shells at western Negev on Friday, following a night-long barrage of Qassam rockets fired from the coastal enclave.

Police investigation showed that one of the mortar bombs fired at Hof Ashkelon council contained phosphorus.

“The IDF holds the Hamas solely responsible for the situation in the Gaza Strip,” the IDF announcement said.

Palestinian witnesses and Hamas officials said that Israeli fighter jets raided two targets in the Gaza Strip, Reuters reported Friday.

Palestinian sources say five Palestinians were wounded in the attacks, one of which sent plumes of smoke shooting into the air in the southern Gaza town of Khan Younis, according to witnesses.

The Popular Resistance Committees, a Palestinian militant group, claimed responsibility for mortar fire, saying it was in retaliation for Israel’s killing of two militant leaders of an al-Qaeda linked group in Gaza on Wednesday.

Earlier on Friday Gaza militants fired a long-range Grad rocket into the western Negev.
The rocket exploded north of the Israeli town of Ofakim, with security forces struggling to pinpoint the exact location due to heavy morning fog.

The launch joined at least two earlier Qassam-rocket firings into western Negev, with no injuries or damages being reported; a third Qassam launch was reported a few hours following the firing of the Grad-type Katyusha.(*)

The Adisucipto International Airport in Yogyakarta

Please also visit :  KATAKAMI.BLOGSPOT.COM

November 20, 2010 (KATAKAMI / THE JAKARTA POST) — The Adisucipto International Airport in Yogyakarta went back into operation on Saturday noon after authorities closed it down due to Mount Merapi’s volcanic activities.

The Yogyakarta to Jakarta route via Solo, Blora, Semarang and Indramayu has been reopened. Authorities directed flights to this northward route to avoid areas affected by Merapi’s volcanic dust.

However, the Yogyakarta to Jakarta route via Cilacap and Indramayu remain closed.  (*)

Presiden Rusia Dmitry Medvedev (kiri) berjabatan tangan dengan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dalam pertemuan mereka di Baku (18 November 2010). Foto : Kremlin.Ru

Dimuat juga di KATAKAMI.BLOGSPOT.COM


(KATAKAMI 19/11/2010) — Siapa yang tak kenal dengan nama Mahmoud Ahmadinejad ? Pria brewokan kelahiran 28 Oktober 1956 ini adalah Presiden dari Republik Islam Iran.

Saat ini ia sedang menjalankan periode kedua pemerintahannya setelah terpilih kembali pada pemilihan umum kepresidenan tahun 2009 lalu.

Berbicara soal Ahmadinejad, berarti bicara tentang ambisi nuklir Iran yang mnemancing kecurigaan dan kemarahan hampir sebagian besar negara-negara barat.

Terutama Amerika Serikat dan Israel.

Ahmadinejad adalah figur yang sangat semaunya dalam berbicara.

Ia tak pernah punya rasa sungkan atau pakem-pakem diplomasi saat berbicara dalam forum-forum internasional.

Dua bulan lalu (September 2010) dalam forum sidang terbuka Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa ( 65th session of the United Nations General Assembly ), Ahmadinejad bisa dengan seenaknya mengatakan bahwa mayoritas orang mempercayai bahwa Amerika Serikatlah yang berada di belakang serangan 11 September 2001.

Pidato yang sangat seenaknya ini menyebabkan sejumlah delegasi dalam sidang Majelis Umum PBB melakukan walkout.

Bahkan Presiden Barack Obama secara reaktif menjawab tudingan ( klaim ? ) dari Presiden Ahmadinejad dengan mengatakan bahwa tuduhan itu adalah “sesuatu yang dapat menimbulkan kebencian”

Istilah yang digunakan Presiden Obama menjawab klaim itu adalah : “Inexcuseable, offensive” and hateful”.

Tapi “kegilaan” Presiden Ahmadinejad pada Amerika tak cuma ini, beberapa bulan sebelumnya Presiden Ahmadinejad juga pernah membuat heboh lewat pernyataannya saat ia mengatakan bahwa sebenarnya Osama Bin Laden berada di Washington.

Kontan saja omongan “asal-asalan” dari Presiden Ahmadinejad ini dibantah secara keras oleh Washington.


Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad saat ia tiba di kota Qazvin sekitar 90 mil (140 kilometer) barat ibukota Teheran, Iran (Getty Images)

Dan Ahmadinejad seakan tak peduli pada reaksi Obama pasca pidato kontroversial di Sidang Majelis Umum PBB.

Bahkan dalam statusnya pada akun pribadinya di jejaring TWITTER, Ahmadinejad dengan cuek menuliskan sebagai berikut :

“Well, my material bombed at the UN again. This is the last I hire Michael Richards as my head speechwriter” (September 24, 2010).

Di hari yang sama, Ahmadinejad juga menyerang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam wawancara di CNN.

Tidak tanggung-tanggung, Ahmadinejad menyebut PM Netanyahu sebagai pembunuh perempuan dan anak-anak. Dan tuduhan yang sangat berani ini, dipertegas lagi oleh Ahmadinejad.

Dalam akun twitternya yang lain Ahmadinejad menuliskan sebagai berikut :

“I wasn’t lying when I told CNN’s Larry King that @Plaid_Netanyahu is a dictator”who should be tried for killing women and children.” (September 24, 2010)

Berbeda dengan Presiden Obama, PM Netanyahu tidak mau menanggapi serangan terbuka lewat media yang dilakukan Presiden Ahmadinejad.

Bibi (panggilan Netanyahu) bagaikan “gunung es” yang barangkali menganggap omongan Ahmadinejad adalah sesuatu yang bersifat murahan dan tak perlu dijawab secara khusus,

Tetapi dalam sebuah media online di Israel, rakyat disana yang merasa perlu membela pemimpin mereka yang diserang oleh Presiden Iran menuliskan beragam komentar.

Bibi dibela oleh rakyatnya sendiri.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pertemuannya dengan Sekjen PBB Ban Ki-moon di New York (8 November 2010). Salah satu pernyataan yang disampaikan PM Netanyahu saat ia berkunjung ke Amerika adalah cara terbaik untuk menghadapi dan mengatasi ambisi nuklir Iran adalah dengan melakukan SERANGAN MILITER. (Foto : Getty Images)

Diantaranya adalah menyayangkan CNN yang memberikan kesempatan bagi Ahmadinejad untuk diwawancarai.

Dan ada sebuah komentar berbahasa Inggris yang di muat di media online Israel HAARETZ yang singkat tetapi cukup pedas dari rakyat Israel untuk Ahmadinejad yaitu : “Look who’s talking !”

Presiden Ahmadinejad memang termasuk salah seorang pengguna jejaring sosial Twitter yang cukup aktif.

Ia punya beberapa beberapa akun twitter.

Dan dalam akun twitter pribadinya yang manapun, topik yang paling sering disorot untuk diejek, disindir dan dikomentari dengan seribu satu macam “keanehan” adalah soal Amerika, Presiden Obama, Palestina dan Israel.

Tetapi Ahmadinejad juga menunjukkan “kegenitan yang sangat menggelikan” saat ia menjawab di Twitter kritikan dari sesama pemimpin dunia (dari kalangan perempuan) yaitu dari Presiden Argentina Cristina Fernández de Kirchner.

“Oh, what’s that? YOU’RE A WOMAN, I CAN’T HEAR YOU! I’m not listening, lalalalalalalala”  (October 22, 2010).

Atau pesan Ahmadinejad untuk Mantan Ketua DPR Amerika, Nancy Pelosi yang harus tersingkir dari kursi jabatannya pasca kemenangan Partai Republik yang mengantarkan JOHN BOEHNER sebagai pengganti Nancy Pelosi :

“Ex-speaker Pelosi, you can still “speak” at my house anytime. (wink wink) -M.A.” (November 3, 2010).

Ahmadinejad adalah anak dari pasangan Ahmad dan Khanom.

Ia adalah anak ke-4 dari 7 bersaudara.

Tak selamanya ia bersikap arogan.

Dalam foto ini diambil pada Selasa, 9 November 2010, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, kanan, menyambut Kardinal Jean-Louis Tauran, Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Vatikan, di kantor kepresidenan di Teheran, Iran. (Foto : Getty Images)

Saat Paus Benediktus ke XVI secara tegas mengecam rencana Pendeta Terry Jones untuk membakar Al Quran pada bulan September 2010 lalu, hal ini mendapat pujian dari Presiden Ahmadinejad.

Ia menghargai Tahta Suci Vatican yang mengecam rencana gila yang provokatif tadi.

Ahmadinejad,  tumben-tumbennya bisa menuliskan pesan yang sangat santun pada akun twitternya mengenai hal itu :

“I thank Pope for condemning the Qu’ran burning which was to take place in Florida, USA not long ago. Much, much appreciated” (October 8, 2010).

Mungkin itulah sebabnya tanggal 9 November 2010 lalu, Presiden Ahmadinejad bersedia menerima kunjungan dari Utusan Paus Benediktus yaitu Kardinal Jean-Louis Tauran yang datang untuk menyampaikan surat khusus dari Paus untuk Presiden Iran.

Dan bagi Indonesia, Iran adalah negara sahabat yang selalu mendapat tempat khusus di hati sebab sama-sama memiliki latar belakang sebagai negara Islam.

Indonesia adalah negara yang berpenduduk Islam terbesar di dunia.

Indonesia tak pernah bergeser dari sikapnya jika menyinggung masalah program nuklir Iran yaitu tak setuju jika Iran dijatuhi sanksi yang sangat tidak berkeadilan tetapi Indonesia selalu mendukung secara tegas proses dialog dalam menyelesaikan krisis nuklir di Iran.

Presiden Rusia Dmitry Medvedev (kiri) dalam pertemuannya dengan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad di Baku (18 November 2010). Foto : Kremlin.Ru

Dalam kunjungannya ke Baku pada pekan ini, Presiden Ahmadinejad menyerukan kepada negara-negara barat agar berhenti menekan Iran.

Desakan dari Ahmadinejad ini sangat bisa dipahami dengan akal sehat.

Bagaimana efektivitas diplomasi jika untuk menyelesaikan sebuah permasalahan yang sangat rumit semacam nuklir, jurus yang digunakan adalah jurus gertak yang sangat sinis disertai sanksi-sanksi yang sangat memusingkan kepala bagi Iran ?

Itu sebabnya, pertemuan antara Presiden Ahmadinejad dengan Presiden Rusia Dmitry Medvedev di Baku tanggal 8 November lalu sangat menyejukkan hati.

Rusia memainkan peranan yang sangat cantik dalam krisis nuklir Iran yang semakin suram.

Presiden Medvedev menyampaikan langsung kepada Presiden Ahmadinejad tentang pentingnya menjaga program nuklir di Iran sebagai sebuah program nuklir damai ( a peaceful Iranian nuclear programme ).

Pertemuan ini menjadi tolak ukur baru bahwa saat ini ada pemimpin dunia yang bisa melakukan kontak langsung dengan Iran dalam sebuah kerangka dialog yang sehat dan bersahabat.

Sikap saling serang di media-media internasional dari sejumlah pihak kepada Iran ( dan dibalas juga oleh Presiden Ahmadinejad lewat pernyataan-pernyataan yang jauh lebih “bringas” di media ) hanya akan membawa proses perundingan dalam mengatasi ambisi nuklir Iran ke lembah kekelaman.

Rusia membuktikan kemampuan mereka untuk menjadi kekuatan baru yang pantas disegani di dunia.

Lepas dari kepentingan perdagangan antar kedua negara yaitu Rusia dan Iran, tetapi Rusia juga harus selalu mengingat bahwa posisi strategis mereka ini harus tetap diarahkan pada prinsip perdamaian dan keamanan dunia yang berkelanjutan.

Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin (kiri) dan Presiden Dmitry Medvedev. (File)

Baik Presiden Medvedev atau Perdana Menteri Putin, keduanya harus senantiasa membawa dan menempatkan Rusia sebagai tonggak yang akan selalu menjamin misi-misi perdamaian dan keamanan dunia terjaga dengan baik.

Rusia harus sangat selektif melakukan perdagangan senjata (misil) ke negara-negara manapun yang dapat menyalah-gunakan kecanggihan persenjataan itu untuk merugikan pihak lain.

Sangat menyejukkan hati saat Rusia ( lewat Presiden Medvedev ) bisa secara langsung bertemu dan berkomunikasi dengan pemimpin seradikal Presiden Ahmadinejad.

Ke depan, Rusia bisa menjadi kekuatan yang bisa mengimbangi dan meminimalisir kerasnya dorongan banyak pihak yang sudah sangat kehabisan kesabaran dan begitu geram pada Iran.

Rusia bisa menjadi pihak yang berperan maksimal untuk ikut menyelesaikan krisis nuklir di Iran, terutama jika semua saluran komunikasi dan lobi-lobi dari berbagai kekuatan diplomasi menjadi tersumbat.

Apalagi setelah bertemu dengan Presiden Ahmadinejad pada bulan November ini, Presiden Medvedev berencana untuk melakukan kunjungan ke Israel pada bulan Januari 2011 mendatang.

Topik soal Iran pastilah akan menjadi topik menarik untuk dibahas bila sudah bertemu dengan Israel.

Paling tidak, Presiden Medvedev bisa menyampaikan pada Presiden Shimon Peres dan Perdana Menteri Netanyahu agar bersedia bersikap lebih “baik hati” dalam menghadapi masalah Iran.

Mau jadi apa dunia ini kalau sedikit-sedikit, serangan militer yang dijadikan langkah utama.

Mau jadi apa dunia ini kalau dalam menyelesaikan sebuah masalah penting seperti krisis nuklir ini, masing-masing negara besar dan kekuatan-kekuatan yang “super power” begitu mudah menjatuhkan sanksi demi sanksi.

Diplomasi seakan sudah tidak membutuhkan proses dialog.

Diplomasi seakan sudah tidak membenarkan proses damai.

Diplomasi, apakah pantas disebut sebagai diplomasi, jika kekuatan-kekuatan besar yang mempunyai peranan penting didunia ini sudah mengubah citra mereka menjadi singa yang siap menerkam siapa saja yang dianggap membangkang dan tak mau diatur ?

Jangan serang Iran, apalagi lewat serangan militer.

Sebab serangan itu hanya akan membuat rakyat Iran menjadi terancam dan hampir dapat dipastikan akan memakan korban jiwa yang tak berdosa dari kalangan sipil, perempuan dan anak-anak.

Dan janganlah ada arogansi-arogansi yang bersembunyi dibalik prinsip-prinsip keangkuhan sebagai negara atau kekuatan yang penuh superioritas ( super power) sehingga merasa pantas untuk menghajar negara lain.

Untuk apa ada Perserikatan Bangsa Bangsa ( UN ) Di dunia ini jika kekuatan diplomasi sudah kehilangan kekuatan-kekuatan lobi mereka yang berbasiskan perdamaian yang sesungguhnya.

Iran juga harus sangat terbuka pada kepedulian dunia internasional bahwa di zaman kekinian ancaman nuklir sebagai senjata pemusnah atau pembunuh massal adalah sesuatu yang sangat tidak dibenarkan.

Presiden Ahmadinejad juga harus mau bersikap lebih bersahabat kepada media massa asing yang ingin berkontribusi di Iran sebab para jurnalis tidak memiliki agenda-agenda propaganda yang licik.

Percayalah bahwa setiap jurnalis dan setiap media hanya membawa satu kepentingan yaitu pembawa informasi.

Please.

(MS)

Russia's President Dmitry Medvedev (R) walks with Iran's President Mahmoud Ahmadinejad during their meeting in Baku, November 18, 2010. The two heads of state discussed Iran’s nuclear programme and other issues. The Russian President emphasised the importance of continuing Iran’s peaceful nuclear programme. The construction of the Bushehr Nuclear Power Plant, which was carried out by Russian specialists under IAEA control, is an example of effective cooperation in this sphere. Dmitry Medvedev and Mahmoud Ahmadinejad also discussed issues pertaining to trade and economic ties, as well as other areas of cooperation between Russia and Iran. The meeting took place on the sidelines of the third Caspian Summit. (Getty Images / REUTERS/Dmitry Astakhov/RIA Novosti/Kremlin )

Russia's President Dmitry Medvedev (L) shakes hands with Iran's President Mahmoud Ahmadinejad in Baku, November 18, 2010. World powers should stop threatening Iran if they want to achieve results at talks on Tehran's nuclear programme, Iranian President Mahmoud Ahmadinejad said on Thursday. (Getty Images / REUTERS / Dmitry Astakhov/RIA Novosti/Kremlin )

Russian President Dmitry Medvedev (L) and his Iranian counterpart Mahmoud Ahmadinejad shake hands during their bilateral meeting on the sidlines of a regional summit in Baku on November 18, 2010. The two heads of state discussed Iran’s nuclear programme and other issues, says Kremlin. The Russian President emphasised the importance of continuing Iran’s peaceful nuclear programme. The construction of the Bushehr Nuclear Power Plant, which was carried out by Russian specialists under IAEA control, is an example of effective cooperation in this sphere. Dmitry Medvedev and Mahmoud Ahmadinejad also discussed issues pertaining to trade and economic ties, as well as other areas of cooperation between Russia and Iran. The meeting took place on the sidelines of the third Caspian Summit. (Photo by DMITRY ASTAKHOV/AFP/Getty Images)

Russian President Dmitry Medvedev (L) looks at his Iranian counterpart Mahmoud Ahmadinejad during their bilateral meeting on the sidelines of a Caspian regional summit in Baku on November 18, 2010. Iranian President was to meet Medvedev during one of the lowest points in relations between the two traditional allies. Once a reliable backer of Tehran throughout the nuclear standoff, Moscow has scrapped a controversial missile deal with Iran and backed United Nations sanctions against the country, which Russia now admits is nearing the ability to develop a nuclear bomb. (Photo by DMITRY ASTAKHOV/AFP/Getty Images)

Taufik Kiemas, Speaker of Indonesia People's Consultative Assembly ( Majelis Permusyawaratan Rakyat / MPR)

Please also visit : KATAKAMI.BLOGSPOT.COM

November 18, 2010. Jakarta (KATAKAMI / THE JAKARTA POST) — People’s Consultative Assembly (MPR) Speaker Taufik Kiemas has demanded that the government take responsibility for a recent case of maid abuse in Saudi Arabia. He also asked the relevant officials to directly tackle the problem.

Taufik said he regretted that the government had not learned from previous cases of abuse of maids and had not insisted on stricter regulations that would guarantee workers’ safety in Saudi Arabia. He said stricter regulations could be implemented in many other countries where Indonesians worked.

 

http://www.harianpelita.com/media/abig_1289838429.jpg

Photo : Sumiati

 

“I think this is the time for Minister of Manpower and Transmigration Muhaimin Iskandar and National Indonesian Workers Placement and Protection Agency head Jumhur Hidayat to take firm action. Please do something meaningful for our workers there,” he said.

An Indonesian worker by the name of Sumiati was recently sent to King Fahd Hospital in Saudi Arabia with severe wounds allegedly inflicted by her employer there. (*)

 

Indonesia's Women's Affairs Minister Mrs. Linda Agum Gumelar

Please also visit : KATAKAMI.BLOGSPOT.COM

November 18, 2010. Jakarta (KATAKAMI / THE JAKARTA GLOBE) — Indonesia’s women’s affairs minister will fly to Saudi Arabia on Friday to check on the investigation into the brutal torture of an Indonesian maid, the foreign minister said.

Linda Agum Gumelar will lead an inter-ministerial team to ensure justice for Sumiati Binti Salan Mustapa, 23, whose shocking injuries highlighted the abuse of female migrant workers in the Middle East.

“As ordered by the president (Susilo Bambang Yudhoyono), justice must be upheld,” foreign ministry spokesman Michael Tene told AFP.

Gumelar will visit Sumiati in a hospital in the Saudi city of Medina where she has been recuperating since November 8 from injures including deep cuts to her lips and face allegedly inflicted with scissors.

http://www.harianpelita.com/media/abig_1289838429.jpg

Photo : Sumiati

Amnesty International appealed to Saudi Arabia and other Gulf states on Wednesday to do more to protect migrant domestic workers in the oil-rich kingdom.

The London-based human rights watchdog said the maid’s treatment, which Yudhoyono on Tuesday described as “extraordinary torture,” symbolized the plight of foreign workers in the region.

“Women who go to Saudi Arabia and other Gulf countries to be domestic workers face abuse and exploitation,” the watchdog’s Middle East and North Africa director, Malcolm Smart, said.

“At the root of the problem is the failure of the governments of the Gulf states to uphold the rights of women migrant domestic workers.

“Workers from countries like Indonesia, India, Pakistan and Sri Lanka underpin the Gulf states’ economies — it is high time that they got a fair deal,” he said.

Indonesia summoned Saudi ambassador Abdulrahman Alkhayat on Monday to express its deep concern.

The envoy on Thursday said what happened to Sumiati was “barbaric”.

He said no arrests had been made as a result of the ongoing investigation, and rejected suggestions that such abuse was all-too common in his country, saying he would “pray to God” to prevent similar abuses in future.

“We haven’t made any arrest and we have to wait for the result of the investigation,” he told a news conference in Jakarta.

“There are more than one million Indonesian workers in Saudi. What happened to Sumiati is a very rare occurrence and we pray to God that this won’t happen again.”


Agence-France Presse

The IDF Chief of Staff, Lt. Gen. Gabi Ashkenazi continued his work visit to North America and was hosted (Wednesday, Nov 17, 2010) at the Pentagon by the United States chairman of the Joint Chiefs of Staff, Navy Admiral Mike Mullen. The photo show Navy Adm. Mike Mullen and Lt. Gen. Gabi Ashkenazi during the respective playing of their national anthems at the Pentagon ceremony welcoming Lt. Gen. Gabi Ashkenazi, after which both leaders addressed the media during a press availability. ( IDFSpokesperson.com / DoD photo by Mass Communication Specialist 1st Class Chad J. McNeeley/Released)

The IDF Chief of Staff, Lt. Gen. Gabi Ashkenazi continued his work visit to North America and was hosted (Wednesday, Nov 17, 2010) at the Pentagon by the United States chairman of the Joint Chiefs of Staff, Navy Admiral Mike Mullen. The photo show Navy Adm. Mike Mullen and Lt. Gen. Gabi Ashkenazi during the respective playing of their national anthems at the Pentagon ceremony welcoming Lt. Gen. Gabi Ashkenazi, after which both leaders addressed the media during a press availability. (DoD photo by Mass Communication Specialist 1st Class Chad J. McNeeley/Released) ( IDFSpokesperson.com / DoD photo by Mass Communication Specialist 1st Class Chad J. McNeeley/Released)

IDF Chief of Staff, Lt. Gen. Gabi Ashkenazi (left) and United States chairman of the Joint Chiefs of Staff, Navy Admiral Mike Mullen at the Pentagon, Nov. 17, 2010. Photo by: Embassy of Israel Press Office )

IDF Chief of Staff, Lt. Gen. Gabi Ashkenazi (left) and United States chairman of the Joint Chiefs of Staff, Navy Admiral Mike Mullen at the Pentagon, Nov. 17, 2010. Photo by: Embassy of Israel Press Office )

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.